jika amarah yang memuncak hadir karena kelalaian..lantas apakah saling menyalahkan dan membela diri pantas di perjuangkan????
..orang tua yang melihat anaknya terluka..darah menetes..dengan mimik muka menyeringai menahan perih dan air mata..semua rasa berkecamuk dalah hati..dengan celotehan yang polos penuh kejujuran mulailah satu persatu kejadian di ceritakan..hanya orang tua yang bodoh yang akan diam saja mendengar dan menyaksikan "malaikat kecil"nya merintih kesakitan karena pecahan beling yang mengenai jari-jari kecil tanpa alas kaki itu..
dalam benak timbul banyak pertanyaan...bagaimana bisa ada pecahan beling di tempat yang di rasa begitu aman..bagaimana bisa pecahan beling itu bisa mengenai jari-jari yang begitu mungil..dan bagaimana bisa mata yang memandang tak merasa iba saat melihat bekas tapak kaki yang merupakan tetesan darah dari jari-jari mungil itu..pasti saat menapakkan kakinya ada rasa sakit karena harus berjalan saat kaki terluka..tak hanya rasa sedih..iba..bahkan amarah pun ikut menyertai mana kala melihat bekas bercak darah di lantai..
ketika berbincang dengan sesama orangtua yang menunggui anak-anak di sekolah..seorang anak kecil menghampiriku..dengan sigap anak itu berkata.." bunda..deda kaki nya berdarah..kena beling..' aku langsung tersentak..bagaimana bisa beling melukai 'malaikat kecil' ku..sedang saat itu dia berada di dalam kelas..dan sedang belajar..tanpa pikir panjang aku pun langsung berlari ke lantai atas kelas 'malaikat kecil'ku berada..langkahku berhenti sesaat mana kala aku melihat ruang guru di penuhi teman-teman anakku..belumlah ku lihat lukanya..tampak bekas bercak darah menyerupai tapak kaki.."ya tuhan..anakku harus melangkah ke ruang guru yang tepat berada di samping kelasnya..bagaimana bisa kaki yang terluka itu di biarkan berjalan sendiri.." pertanyaan itu pun terlintas dalam benakku..
perlahan ku memasuki ruangan itu..tampak sosok "malaikat kecil' ku menatap..seakan berkata.."ga apa-apa bunda..abang baik-baik saja.."..aku pun duduk di samping bangku tempat anakku duduk..sambil bertanya..apa yang sudah terjadi..dengan polosnya dia bercerita.."aku kena beling di dalam kelas..tapi sudah di cabut belingnya sama temen.." ku tatap satu persatu pengajar yang berada di dalam ruangan itu..berharap akan mendapat penjelasan..pengajar pertama hanya duduk di bangku kerjanya..pengajar kedua sibuk mencari obat di kotak p3k dan pengajar ketiga membersihkan darah yang masih ada di jari-jari mungil anakku sambil mencari di mana luka yang mengeluarkan darah..bahkan bukan penjelasan yang aku dapatkan..tapi justru pertanyaan.."kenapa bisa ya kena beling..kok bisa ada beling di dalam kelas..??" apakah pertanyaan bodoh itu pantas di lontarkan pada orang tua murid..sedang jelas-jelas saat itu anakku sedang berada di dalam kelas..bagaimana bisa aku menjawab tentang keberadaan beling itu..apakah aku harus sama bodohnya dengan yang bertanya..mencari kembali beling itu dan bertanya.."wahai pecahan beling..bagaimana kau bisa berada di dalam kelas anakku dan melukai jari-jari mungilnya.."
entah karena menahan sakit atau takut.."malaikat kecil'ku merengek minta pulang..dan sekali lagi aku bertatap muka dengan pihak pengajar untuk berpamitan..namun tak ada satupun patah kata yang terlontar dari mereka tentang penjelasan.. atau permintaan maaf ..
sesampai di rumah dengan raut wajah sedih 'malaikat kecil"ku menceritakan kejadian di sekolah dengan ayahnya..dengan maksud untuk minta penjelasan dari pihak sekolah..sang ayah menghubungi pihak pengajar..dan amarah pun memuncak ketika tidak ada penjelasan yang bisa di pertanggung jawabkan..entah luka itu besar atau kecil bukanlah menjadi alasan dalam beradu argumen..tetapi rasa bertanggung jawab ketika kepercayaan yang telah di berikan yang di pertanyakan..beberapa jam berlalu..tiba-tiba terdengar bunyi sms masuk di hp ku..ku lihat sms dari salah satu pengajar..isi nya meminta maaf atas kejadian di sekolah juga rasa keberatan karena komplain melalui telp yang bernada marah-marah..dan aku pun membalas sms itu sekalian menjelaskan mengapa sang ayah bisa sangat memuncak amarahnya..tetapi ternyata sang pengajar tidak terima dan merasa tidak di hargai sebagai guru..dengan bahasa yang halus namun tegas..aku pun kembali membalas sms itu..dan alangkah terkejutnya aku..kembali sms ku berbalas..yang isinya pihak sekolah meminta ayah dan bunda datang ke sekolah.. aku pikir mereka benar-benar merasa bersalah karena telah lalai..namun ternyata alasan pasti nya mereka meminta kami datang hanya karena tidak mau ada gosip..
dari kejadian ini aku dapat mengambil pelajaran.1..setinggi apapun tingkat pendidikan jika tidak di imbangi dengan etika dan tata krama..maka gelar yang tertulis dalam sertifikat atau ijasah tidaklah ada nilai nya..2.usia tidaklah menjamin seseorang untuk bersikap dewasa dan bijaksana walau pun bergelar orang yang terhormat..3.kepercayaan..terkadang kepercayaan yang di berikan di sepelekan hingga menghancurkan kepercayaan tersebut..4.hak dan kewajiban..ketika meminta hak..apakah kewajiban itu sudah di laksanakan dengan baik..5.rasa tanggung jawab..entah apapun kejadian yang telah terjadi..tetapi selama masalah itu masih berada dalam genggaman maka harus di pertanggungjawabkan..sepahit apapun masalah itu..karena pelajaran hidup tidak di peroleh di bangku sekolah..tetapi dari kesalahan dan pengalaman..
..orang tua yang melihat anaknya terluka..darah menetes..dengan mimik muka menyeringai menahan perih dan air mata..semua rasa berkecamuk dalah hati..dengan celotehan yang polos penuh kejujuran mulailah satu persatu kejadian di ceritakan..hanya orang tua yang bodoh yang akan diam saja mendengar dan menyaksikan "malaikat kecil"nya merintih kesakitan karena pecahan beling yang mengenai jari-jari kecil tanpa alas kaki itu..
dalam benak timbul banyak pertanyaan...bagaimana bisa ada pecahan beling di tempat yang di rasa begitu aman..bagaimana bisa pecahan beling itu bisa mengenai jari-jari yang begitu mungil..dan bagaimana bisa mata yang memandang tak merasa iba saat melihat bekas tapak kaki yang merupakan tetesan darah dari jari-jari mungil itu..pasti saat menapakkan kakinya ada rasa sakit karena harus berjalan saat kaki terluka..tak hanya rasa sedih..iba..bahkan amarah pun ikut menyertai mana kala melihat bekas bercak darah di lantai..
ketika berbincang dengan sesama orangtua yang menunggui anak-anak di sekolah..seorang anak kecil menghampiriku..dengan sigap anak itu berkata.." bunda..deda kaki nya berdarah..kena beling..' aku langsung tersentak..bagaimana bisa beling melukai 'malaikat kecil' ku..sedang saat itu dia berada di dalam kelas..dan sedang belajar..tanpa pikir panjang aku pun langsung berlari ke lantai atas kelas 'malaikat kecil'ku berada..langkahku berhenti sesaat mana kala aku melihat ruang guru di penuhi teman-teman anakku..belumlah ku lihat lukanya..tampak bekas bercak darah menyerupai tapak kaki.."ya tuhan..anakku harus melangkah ke ruang guru yang tepat berada di samping kelasnya..bagaimana bisa kaki yang terluka itu di biarkan berjalan sendiri.." pertanyaan itu pun terlintas dalam benakku..
perlahan ku memasuki ruangan itu..tampak sosok "malaikat kecil' ku menatap..seakan berkata.."ga apa-apa bunda..abang baik-baik saja.."..aku pun duduk di samping bangku tempat anakku duduk..sambil bertanya..apa yang sudah terjadi..dengan polosnya dia bercerita.."aku kena beling di dalam kelas..tapi sudah di cabut belingnya sama temen.." ku tatap satu persatu pengajar yang berada di dalam ruangan itu..berharap akan mendapat penjelasan..pengajar pertama hanya duduk di bangku kerjanya..pengajar kedua sibuk mencari obat di kotak p3k dan pengajar ketiga membersihkan darah yang masih ada di jari-jari mungil anakku sambil mencari di mana luka yang mengeluarkan darah..bahkan bukan penjelasan yang aku dapatkan..tapi justru pertanyaan.."kenapa bisa ya kena beling..kok bisa ada beling di dalam kelas..??" apakah pertanyaan bodoh itu pantas di lontarkan pada orang tua murid..sedang jelas-jelas saat itu anakku sedang berada di dalam kelas..bagaimana bisa aku menjawab tentang keberadaan beling itu..apakah aku harus sama bodohnya dengan yang bertanya..mencari kembali beling itu dan bertanya.."wahai pecahan beling..bagaimana kau bisa berada di dalam kelas anakku dan melukai jari-jari mungilnya.."
entah karena menahan sakit atau takut.."malaikat kecil'ku merengek minta pulang..dan sekali lagi aku bertatap muka dengan pihak pengajar untuk berpamitan..namun tak ada satupun patah kata yang terlontar dari mereka tentang penjelasan.. atau permintaan maaf ..
sesampai di rumah dengan raut wajah sedih 'malaikat kecil"ku menceritakan kejadian di sekolah dengan ayahnya..dengan maksud untuk minta penjelasan dari pihak sekolah..sang ayah menghubungi pihak pengajar..dan amarah pun memuncak ketika tidak ada penjelasan yang bisa di pertanggung jawabkan..entah luka itu besar atau kecil bukanlah menjadi alasan dalam beradu argumen..tetapi rasa bertanggung jawab ketika kepercayaan yang telah di berikan yang di pertanyakan..beberapa jam berlalu..tiba-tiba terdengar bunyi sms masuk di hp ku..ku lihat sms dari salah satu pengajar..isi nya meminta maaf atas kejadian di sekolah juga rasa keberatan karena komplain melalui telp yang bernada marah-marah..dan aku pun membalas sms itu sekalian menjelaskan mengapa sang ayah bisa sangat memuncak amarahnya..tetapi ternyata sang pengajar tidak terima dan merasa tidak di hargai sebagai guru..dengan bahasa yang halus namun tegas..aku pun kembali membalas sms itu..dan alangkah terkejutnya aku..kembali sms ku berbalas..yang isinya pihak sekolah meminta ayah dan bunda datang ke sekolah.. aku pikir mereka benar-benar merasa bersalah karena telah lalai..namun ternyata alasan pasti nya mereka meminta kami datang hanya karena tidak mau ada gosip..
dari kejadian ini aku dapat mengambil pelajaran.1..setinggi apapun tingkat pendidikan jika tidak di imbangi dengan etika dan tata krama..maka gelar yang tertulis dalam sertifikat atau ijasah tidaklah ada nilai nya..2.usia tidaklah menjamin seseorang untuk bersikap dewasa dan bijaksana walau pun bergelar orang yang terhormat..3.kepercayaan..terkadang kepercayaan yang di berikan di sepelekan hingga menghancurkan kepercayaan tersebut..4.hak dan kewajiban..ketika meminta hak..apakah kewajiban itu sudah di laksanakan dengan baik..5.rasa tanggung jawab..entah apapun kejadian yang telah terjadi..tetapi selama masalah itu masih berada dalam genggaman maka harus di pertanggungjawabkan..sepahit apapun masalah itu..karena pelajaran hidup tidak di peroleh di bangku sekolah..tetapi dari kesalahan dan pengalaman..